Beranda Lifestyle Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Waspadai Tanda Pembesaran Prostat

Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Waspadai Tanda Pembesaran Prostat

: Paket skrining saluran kemih dan prostat yang dihadirkan Primaya Hospital guna membantu deteksi dini gangguan kesehatan ginjal dan saluran kemih.

TeknoLyfe.com – Tidur malam yang berkualitas menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kesehatan dan memulihkan energi setelah menjalani aktivitas sepanjang hari. Namun, bagi sebagian pria, waktu istirahat tersebut kerap terganggu karena harus berulang kali terbangun untuk buang air kecil.

Kondisi sering terbangun pada malam hari untuk berkemih tidak hanya mengganggu siklus tidur, tetapi juga sering dianggap sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menjadi tanda adanya pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).

Pembesaran prostat jinak merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum dialami pria. Kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 50 persen pria berusia di atas 50 tahun dan meningkat hingga 80–90 persen pada pria berusia 80 tahun ke atas.

Karena gejalanya berkembang secara perlahan, banyak pria memilih menunda pemeriksaan hingga gangguan tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Tidak sedikit pasien baru mencari pertolongan medis ketika telah mengalami komplikasi seperti infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal.

Dokter Spesialis Urologi Primaya Hospital Kelapa Gading, dr. Elita Wibisono, Sp.U, menjelaskan bahwa pembesaran prostat merupakan salah satu masalah kesehatan pria yang sering ditemukan, namun masih banyak dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.

“Banyak pasien menganggap pancaran urine yang melemah atau sering terbangun malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar karena faktor usia. Akibatnya, mereka baru datang ke dokter ketika sudah mengalami komplikasi, bahkan hingga tidak bisa buang air kecil sama sekali,” jelas dr. Elita.

Pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Tekanan tersebut dapat menyebabkan berbagai gangguan, mulai dari pancaran urine yang melemah, rasa tidak tuntas setelah buang air kecil, hingga urine yang menetes di akhir proses berkemih.

Dalam dunia medis, kondisi sering terbangun malam hari untuk buang air kecil disebut nokturia. Selain mengurangi kenyamanan, kondisi ini juga dapat berdampak terhadap kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.

“Bayangkan jika seseorang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam untuk ke toilet. Kualitas tidurnya akan terganggu, tubuh menjadi mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari ikut terdampak,” ujar dr. Elita.

Menurutnya, dampak pembesaran prostat tidak hanya berkaitan dengan gangguan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup dan hubungan pasangan. Gangguan tidur kronis akibat sering buang air kecil pada malam hari dapat dirasakan pasien maupun pasangan yang tidur di sampingnya.

Selain itu, rasa frustrasi akibat gangguan berkemih yang berlangsung terus-menerus dapat menurunkan rasa percaya diri dan memengaruhi kondisi emosional seseorang.

“Kesehatan prostat erat kaitannya dengan kualitas hidup dan kebahagiaan pasangan. Ketika gejala terus mengganggu aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri pria dapat menurun dan berdampak pada hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual,” kata dr. Elita.

Meski faktor usia tidak dapat dihindari, risiko gangguan prostat dapat dikurangi melalui penerapan gaya hidup sehat. Aktivitas fisik yang cukup, menjaga berat badan ideal, memperbanyak konsumsi sayuran hijau dan makanan kaya likopen seperti tomat, serta membatasi konsumsi daging merah olahan dapat membantu menjaga kesehatan prostat dalam jangka panjang.

Saat ini, pilihan penanganan prostat juga semakin berkembang dengan hadirnya prosedur minimal invasif seperti TURP dan Rezum. Metode tersebut dapat dilakukan tanpa sayatan besar pada bagian perut sehingga memberikan proses pemulihan yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional tertentu.

Pria disarankan segera berkonsultasi dengan dokter apabila mulai mengalami perubahan pada pancaran urine, merasa tidak tuntas saat buang air kecil, harus terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau muncul nyeri maupun darah saat buang air kecil.

“Jangan menunggu hingga tidak bisa buang air kecil atau muncul komplikasi pada ginjal. Gangguan prostat bukan bagian yang harus diterima begitu saja saat menua. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, pria tetap dapat menjaga kualitas hidup, produktivitas, dan keharmonisan bersama pasangan,” tutup dr. Elita. rap