Beranda Teknologi AstraZeneca dan Roche Dorong AI untuk Diagnosis Kanker

AstraZeneca dan Roche Dorong AI untuk Diagnosis Kanker

TeknoLyfe.com – SINGAPURA, 20 Mei 2026 – AstraZeneca dan Roche Diagnostics Asia Pacific menandatangani nota kesepahaman (MoU) selama tiga tahun untuk memperkuat pengembangan patologi digital berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam penanganan kanker payudara dan kanker paru di Asia.

Kolaborasi ini menjadi inisiatif pertama di Asia yang berfokus pada percepatan adopsi teknologi patologi digital dan komputasional berbasis AI melalui program edukasi, pelatihan, serta peningkatan pengujian biomarker untuk kedua jenis kanker tersebut.

Langkah tersebut dilakukan di tengah tingginya angka kasus kanker di kawasan Asia. Secara global, hampir separuh kasus kanker payudara dan lebih dari 60 persen diagnosis baru kanker paru terjadi di Asia.

Pada kanker payudara, hampir separuh perempuan Asia diketahui memiliki tingkat HER2 rendah. Sementara pada kanker paru non-sel kecil atau non-small cell lung cancer (NSCLC), biomarker TROP2 ditemukan pada sekitar 82 hingga 90 persen kasus.

Kondisi ini dinilai memperlihatkan pentingnya pengujian biomarker yang lebih presisi untuk menentukan terapi yang tepat bagi pasien. Penilaian TROP2 berbasis AI juga disebut mampu membantu mengidentifikasi pasien yang berpotensi memberikan respons lebih baik terhadap terapi antibody drug conjugate.

Melalui kerja sama ini, AstraZeneca dan Roche Diagnostics Asia Pacific ingin membantu mengatasi kesenjangan pemahaman dan penggunaan teknologi patologi berbasis AI di Asia.

Saat ini, hanya sekitar 17 persen tenaga medis yang mengaku sangat memahami teknologi patologi digital. Penggunaan tes patologi komputasional di fasilitas klinis juga masih tergolong rendah di sejumlah negara Asia.

Di Filipina, misalnya, sekitar 60 persen dokter onkologi melaporkan keterbatasan akses terhadap fasilitas pengujian biomarker sebagai salah satu tantangan utama.

“Sistem layanan kesehatan yang kuat menjadi bagian penting dari upaya AstraZeneca dalam meningkatkan layanan kanker di Asia,” ujar Area Vice President Asia AstraZeneca, Arun Krishna.

“Melalui kolaborasi dengan Roche Diagnostics Asia Pacific, kami turut berperan aktif dalam mengatasi kesenjangan layanan diagnostik yang masih terjadi di berbagai negara di kawasan tersebut. Dengan memperluas program edukasi dan pemanfaatan patologi berbasis AI, AstraZeneca mendorong integrasi diagnostik presisi dalam penanganan pasien, sehingga akan semakin banyak pasien yang memperoleh diagnosis dan terapi yang tepat sejak tahap awal,” lanjutnya.

Patologi berbasis AI dinilai mampu membantu standardisasi proses diagnosis, mengurangi subjektivitas, serta meningkatkan akurasi pemeriksaan medis.

Sejumlah studi menunjukkan teknologi AI dapat meningkatkan akurasi diagnosis hingga lima persen dan memangkas waktu analisis kasus penyakit hingga 36 persen. Teknologi tersebut juga disebut mampu meningkatkan konsistensi interpretasi diagnosis hingga 15 persen dengan membantu mengurangi bias subjektif manusia.

Selain itu, pemanfaatan AI turut memperluas akses terhadap terapi berbasis target melalui reklasifikasi kasus HER2-negatif menjadi HER2-rendah serta mendukung identifikasi pasien yang lebih presisi menggunakan companion diagnostic berbasis AI untuk TROP2.

Ketika pasien mendapatkan terapi yang tepat sejak awal, manfaat klinis yang diperoleh antara lain peningkatan tingkat respons terapi, memperpanjang progression-free survival (PFS), hingga penggunaan sumber daya layanan kesehatan yang lebih efisien.

“Diagnosis yang cepat dan akurat merupakan fondasi utama dalam layanan kanker yang efektif. Di Asia Pasifik, kesenjangan akses terhadap diagnostik berbasis AI memengaruhi hasil pengobatan pasien,” kata Head of Region Roche Diagnostics Asia Pacific, Lance Little.

“Melalui kolaborasi ini, kami memperkuat kapabilitas diagnostik dan mempercepat adopsi patologi digital di berbagai sistem layanan kesehatan. Langkah ini diharapkan dapat menghadirkan diagnosis yang lebih konsisten dan andal sekaligus meningkatkan standar layanan bagi pasien kanker paru dan kanker payudara,” jelasnya.

Program kolaborasi ini akan dijalankan di Singapura, Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina melalui berbagai pelatihan dan edukasi yang disesuaikan dengan kebutuhan sistem layanan kesehatan di masing-masing negara.

Inisiatif tersebut juga ditujukan untuk mempercepat integrasi patologi komputasional berbasis AI ke dalam alur kerja diagnostik di kawasan Asia. RAP