Beranda Lifestyle AI Baru Ini Bantu Cegah Amputasi pada Pasien Diabetes

AI Baru Ini Bantu Cegah Amputasi pada Pasien Diabetes

TeknoLyfe.com – SINGAPURA, 14 Mei 2026 – Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai memainkan peran penting dalam pencegahan amputasi pada pasien diabetes. Singapore General Hospital (SGH), SingHealth, dan MOH Office for Healthcare Transformation (MOHT) mengembangkan model AI bernama LEA – Neural Network Model (LEA-Net) untuk membantu tenaga medis mendeteksi risiko amputasi tungkai bawah lebih dini.

Model tersebut dirancang untuk memprediksi risiko lower extremity amputation (LEA) hingga tiga sampai lima tahun sebelum pasien mengalami luka atau infeksi pada kaki. Dengan deteksi lebih awal, dokter dapat melakukan intervensi sebelum terjadi kerusakan jaringan permanen.

LEA-Net mengelompokkan pasien ke dalam kategori risiko rendah dan tinggi sehingga proses penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih tepat sasaran. Sistem ini juga membantu mengurangi waktu tunggu pasien untuk mendapatkan penanganan spesialis vaskular.

Di Singapura, hampir sembilan dari 10 pasien amputasi tungkai bawah diketahui menderita diabetes. Sekitar 85 persen kasus amputasi juga diawali oleh luka pada kaki yang tidak tertangani dengan baik.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada mobilitas dan kualitas hidup pasien, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi serius lainnya. Pasien diabetes yang pernah menjalani amputasi memiliki risiko lebih tinggi mengalami luka lanjutan dan kehilangan anggota tubuh lainnya.

Dari sisi biaya kesehatan, penanganan amputasi juga tergolong mahal. Intervensi pada tahap awal diperkirakan memerlukan biaya sekitar US$25.000, sedangkan penanganan pada kondisi lanjut dapat mencapai lebih dari US$40.000 hingga US$50.000 per pasien.

Selama ini, pasien diabetes rutin menjalani pemeriksaan tahunan untuk mata, ginjal, dan kondisi kaki. Namun, tingkat kepatuhan terhadap pemeriksaan kaki diabetik masih lebih rendah dibandingkan pemeriksaan lainnya. Banyak pasien baru mencari bantuan medis ketika luka atau infeksi sudah muncul sehingga risiko amputasi menjadi lebih tinggi.

LEA-Net dikembangkan menggunakan data anonim dari lebih 830.000 rekam medis pasien SingHealth yang mencakup data demografi, kondisi klinis, dan hasil pemeriksaan medis. Sekitar 250.000 rekam medis digunakan untuk proses validasi model.

Hasil pengujian menunjukkan LEA-Net memiliki sensitivitas hampir 80 persen dan spesifisitas mendekati 90 persen dalam memprediksi risiko amputasi tungkai bawah. Angka tersebut dinilai lebih baik dibandingkan sejumlah model prediksi lain yang sudah ada sebelumnya.

Tim pengembang menyebut model ini menjadi bagian dari pergeseran layanan kesehatan menuju pendekatan preventif berbasis data, sejalan dengan program Healthier SG di Singapura.

Atas inovasi tersebut, LEA-Net berhasil meraih “People’s Choice Award” dalam ajang International Consortium for Health Outcomes Measurement Conference (ICHOM) 2025 di Dublin, Irlandia.

Saat ini, tim pengembang masih melakukan validasi lebih lanjut terhadap efektivitas klinis LEA-Net melalui studi percontohan yang melibatkan pasien dari Diabetes Registry milik SingHealth. RAP