Beranda Teknologi AMEC Luncurkan GEO Principles untuk Era Pencarian Berbasis AI

AMEC Luncurkan GEO Principles untuk Era Pencarian Berbasis AI

TeknoLyfe.com – JAKARTA, Perkembangan kecerdasan buatan (AI) generatif yang semakin memengaruhi cara masyarakat mencari dan mengonsumsi informasi mendorong lahirnya standar baru dalam pengukuran komunikasi. Menjawab kebutuhan tersebut, AMEC (International Association for Measurement and Evaluation of Communication) resmi meluncurkan AMEC GEO Principles beserta Panduan Praktisi untuk Pengukuran GEO.

Inisiatif ini dirancang untuk membantu praktisi komunikasi, hubungan masyarakat (PR), dan pengelola reputasi memahami bagaimana organisasi, merek, maupun isu publik ditemukan, ditampilkan, dan direpresentasikan oleh sistem AI generatif.

Kemunculan fitur pencarian berbasis AI, large language model (LLM), conversational search, hingga fenomena zero-click discovery telah mengubah cara informasi dikonsumsi di internet. Pengguna kini semakin sering memperoleh jawaban langsung dari sistem AI tanpa harus mengunjungi situs sumber informasi.

Perubahan tersebut membuat organisasi perlu memahami bagaimana sistem AI memandang dan menyajikan informasi mengenai mereka kepada publik.

AMEC menjelaskan bahwa GEO atau Generative Engine Optimisation semakin banyak digunakan untuk menggambarkan bagaimana sebuah organisasi muncul dalam jawaban yang dihasilkan AI maupun lingkungan pencarian berbasis AI.

Namun, menurut asosiasi tersebut, pengukuran GEO tidak boleh hanya berfokus pada peringkat atau skor semata.

Sebaliknya, pengukuran harus mempertimbangkan kualitas informasi, konteks, akurasi, serta dampaknya terhadap reputasi organisasi.

Peluncuran GEO Principles dilakukan dalam ajang AMEC Summit 2026 sebagai respons terhadap perubahan besar dalam ekosistem pencarian digital yang kini semakin dipengaruhi AI generatif.

Tiga Pilar Pengukuran GEO

AMEC GEO Principles menghadirkan kerangka kerja yang menghubungkan pengukuran visibilitas AI dengan tujuan komunikasi yang lebih luas, termasuk reputasi, kepercayaan, dan dampak bisnis.

Framework tersebut dibangun di atas tiga area utama.

Pertama adalah Upstream Reputation atau reputasi hulu, yang mencakup berbagai sinyal publik yang membentuk persepsi organisasi. Area ini meliputi liputan media, ulasan, komentar pihak ketiga, hingga konten yang dipublikasikan oleh para ahli.

Kedua adalah Search and Content Readiness, yaitu kesiapan sebuah organisasi dari sisi konten dan kehadiran digital. Faktor ini menilai apakah informasi yang dimiliki organisasi terstruktur dengan baik, mudah ditemukan, kredibel, dan dapat dipahami oleh mesin pencari maupun sistem AI.

Sementara area ketiga adalah Downstream AI Outputs, yang berfokus pada bagaimana organisasi ditampilkan dalam jawaban AI. Pengukuran mencakup akurasi informasi, sumber yang dikutip, pembingkaian narasi, hingga potensi risiko reputasi yang muncul dari hasil generatif tersebut.

AMEC menegaskan bahwa ketiga area tersebut harus dianalisis secara bersamaan untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai visibilitas organisasi di era AI.

Transparansi dan Etika Jadi Fokus Utama

Selain memperkenalkan kerangka kerja baru, AMEC juga menyoroti pentingnya transparansi metodologi dalam pengukuran GEO.

Prinsip-prinsip tersebut mengharuskan penggunaan prompt yang dapat direplikasi, dokumentasi metode yang jelas, asumsi yang transparan, serta penjelasan terhadap berbagai keterbatasan pengukuran.

AMEC mengingatkan bahwa hasil yang dihasilkan AI tidak boleh dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Output AI hanya merupakan indikator yang perlu diverifikasi melalui berbagai sumber data lain agar menghasilkan evaluasi yang lebih kredibel.

Panduan praktisi yang diterbitkan bersamaan dengan GEO Principles juga mendorong pendekatan triangulasi data. Artinya, praktisi komunikasi perlu menggabungkan berbagai sumber bukti mulai dari sinyal reputasi, kesiapan konten digital, hingga hasil keluaran AI untuk memahami representasi organisasi secara lebih akurat.

Aspek etika juga menjadi bagian penting dalam framework ini. AMEC mengingatkan para praktisi agar mempertimbangkan berbagai faktor seperti bias algoritma, transparansi data, privasi, niat pengguna, serta akurasi informasi saat melakukan pengukuran berbasis AI.

Industri Butuh Standar yang Lebih Kredibel

Direktur Pelaksana PR Agency One sekaligus Direktur Dewan AMEC, James Crawford, mengatakan kebutuhan terhadap standar pengukuran GEO semakin mendesak seiring meningkatnya pertanyaan dari klien dan pimpinan organisasi mengenai cara mengukur visibilitas di platform AI.

“Siapa pun yang bekerja di bidang PR atau komunikasi pasti tahu betapa cepatnya klien dan jajaran pimpinan organisasi mulai bertanya tentang bagaimana GEO dan keluaran LLM seharusnya diukur. Ada inovasi yang sangat baik yang sedang berlangsung, tetapi pada saat yang sama terdapat standar yang belum merata, klaim berlebihan, vanity metrics, dan metodologi yang tidak selalu cukup transparan. AMEC memiliki tanggung jawab untuk membawa disiplin dalam diskusi tersebut,” ujar Crawford.

Ia menambahkan bahwa pendekatan terbaik dalam mengukur visibilitas AI adalah dengan menggabungkan berbagai sumber bukti, bukan bergantung pada satu platform atau satu skor tertentu.

Sementara itu, CEO dan Global Managing Director AMEC, Johna Burke, menilai bahwa organisasi profesional memiliki peran penting dalam membangun standar yang lebih bertanggung jawab di tengah perkembangan AI yang sangat cepat.

“Seiring AI yang semakin membentuk apa yang dilihat, dipercaya, dan dilakukan oleh publik, industri komunikasi perlu menjunjung standar yang lebih tinggi dalam hal transparansi, bukti, dan akuntabilitas,” kata Burke.

Menurutnya, GEO Principles merupakan hasil kolaborasi global yang melibatkan agensi komunikasi, akademisi, vendor teknologi, hingga komunitas internasional AMEC. Kolaborasi tersebut dilakukan selama lebih dari enam bulan melalui proses penelitian, pengujian, dan penyempurnaan berulang.

Dengan hadirnya AMEC GEO Principles, praktisi komunikasi kini memiliki acuan yang lebih jelas untuk mengevaluasi bagaimana organisasi mereka direpresentasikan dalam era AI generatif. Standar ini sekaligus menjadi langkah penting untuk memastikan pengukuran komunikasi tetap relevan, kredibel, dan etis di tengah perubahan besar yang dibawa oleh teknologi AI. rap